• Jln. Danau Aji Kel. Melayu Tenggarong Kab. Kutai Kartanegara 75512
  • 0541 661350

NEWS DETAILS

Kebutuhan Daging Jelang Lebaran 116.000 Ton

Kebutuhan Daging Jelang Lebaran 116.000 Ton

JAKARTA, DKI JAKARTA - Kebutuhan daging sapi pada periode puasa dan Lebaran tahun 2018 mencapai 116.339 ton, atau naik 9,33 persen dari periode sama 2017 sebesar 106.407 ton. Sebanyak 75.403 ton kebutuhan daging itu dipenuhi dari lokal dan kekurangannya 40.936 ton dari impor, baik dalam bentuk sapi bakalan maupun daging beku. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (PKH Kemtan) Fini Murfiani mengatakan, Ditjen PKH memperkirakan kebutuhan daging pada Mei-Juni 2018 mencapai 116.339 ton atau lebih tinggi dari prognosa kebutuhan pada periode sama 2017 yang sebanyak 106.407 ton. 

Sementara itu, masa puasa-Lebaran 2018 bertepatan pada Mei-Juni. "Hasil perhitungan kami, kebutuhan daging Mei-Juni 2018 sebesar 116.339 ton yang dapat dipenuhi dari produksi daging sapi lokal 75.403 ton dan kekurangannya sekitar 40.936 ton dipenuhi dari impor dalam bentuk sapi bakalan dan daging beku,” kata dia di Jakarta, Minggu (8/4). Pemangku kepentingan telah melakukan koordinasi untuk kepastian pasokan dan kelancaran distribusi daging. Hal itu untuk mengantisipasi ketersediaan stok dan upaya menstabilkan harga kebutuhan daging sapi masa puasa dan Lebaran 2018. Pemerintah dalam hal ini Kemtan juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah (pemda), baik dengan daerah sentra konsumen terkait kebutuhan daging maupun sentra ternak sapi terkait potensi stok ternak lokal. "Harapannya semuanya stabil, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dan merayakan Lebaran dengan tenang. 

Upaya perbaikan rantai tata niaga ternak juga dilakukan dengan pengembangan akses pasar melalui pemasaran online. Ini diharapkan dapat memperpendek rantai tata niaga, sehingga keuntungan yang didapatkan peternak lebih tinggi," tutur Fini. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), dia memaparkan, populasi ternak sapi di Tanah Air pada 2017 tercatat sebanyak 16.599.247 ekor atau meningkat 3,59 persen dari 2016. Sementara asumsi rata-rata konsumsi nasional adalah 2,50 kilogram per kapita per tahun. Karena itu, untuk memenuhi permintaan tersebut maka pemerintah berupaya agar kebutuhan terpenuhi dari produksi dalam negeri, sedangkan impor dilakukan untuk memenuhi kekurangan. "Daging impor diutamakan untuk memenuhi kebutuhan daging di Jabodetabek yang merupakan daerah konsumen terbesar,” ungkap dia. Fini menjelaskan, kebijakan impor dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk memberikan pilihan varian daging kepada masyarakat dengan harga terjangkau. Impor juga dilakukan demi pengendalian harga pangan terutama pada Hari Besar Keagamaan Nasional, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat terhadap bahan pangan sehingga tidak menimbulkan inflasi. 

Di sisi lain, lanjut dia, pemerintah melakukan pemantauan dan pengendalian harga bahan-bahan pangan. Hal itu dilakukan oleh Kemtan, Kementerian Perdagangan, Kemko Perekonomian, Satgas Pangan, Bank Indonesia, BPS, asosiasi pelaku usaha, hingga distributor. Ditjen PKH Kemtan berusaha mengoptimalkan pengembangan informasi pasar hasil peternakan melalui peningkatan kualitas data dan petugas informasi pasar dengan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait. “Informasi harga komoditas pangan strategis menjadi hal yang sangat penting dalam perumusan kebijakan oleh pemerintah pusat dan daerah, serta sebagai bahan pertimbangan manajemen usaha bagi pelaku bisnis," kata Fini.

 

Sumber:

https://ews.kemendag.go.id/berita/NewsDetail.aspx?v=7134